Rupiah berpotensi menguat terhadap dolar AS yang kembali mengalami sell-off menyusul rilis data ekonomi AS yang lebih lemah
Jakarta (KABARIN) - Pada pembukaan perdagangan Senin pagi di Jakarta, rupiah terlihat menguat 36 poin atau 0,21 persen ke posisi Rp16.784 per dolar AS dari sebelumnya Rp16.820 per dolar AS.
Analis mata uang Doo Financial Futures Lukman Leong menilai penguatan rupiah dipengaruhi data ekonomi AS yang lebih lemah dari perkiraan.
“Rupiah berpotensi menguat terhadap dolar AS yang kembali mengalami sell-off menyusul rilis data ekonomi AS yang lebih lemah,” katanya kepada ANTARA di Jakarta, Senin.
Tercatat, Purchasing Managers' Index (PMI) AS mencapai 51,9, lebih rendah dari perkiraan 52. Sementara ekspektasi inflasi konsumen AS sebesar 4 persen, di bawah dugaan 4,2 persen.
Selain faktor eksternal, rupiah juga mendapat dukungan dari komitmen Bank Indonesia dalam menjaga stabilitas mata uang. “BI umumnya intervensi di spot, obligasi, dan non deliverable forward (NDF),” ungkap Lukman.
Sebelumnya, Gubernur BI Perry Warjiyo menegaskan pihaknya siap membawa rupiah menguat melalui intervensi besar-besaran di pasar offshore NDF, DNDF, serta pasar spot.
Bank Indonesia optimistis rupiah akan tetap stabil dengan kecenderungan menguat berkat imbal hasil yang menarik, inflasi rendah, dan prospek pertumbuhan ekonomi yang tetap positif.
Penguatan rupiah juga mendapat dukungan dari cadangan devisa yang dinilai lebih dari cukup untuk stabilisasi nilai tukar. Dengan kondisi ini, kurs rupiah diprediksi bergerak di kisaran Rp16.750 sampai Rp16.900 per dolar AS.
Editor: M. Hilal Eka Saputra Harahap
Copyright © KABARIN 2026